Kabar Mojokerto - Di Kecamatan Ngoro, Mojokerto terdapat jembatan apung sebagai solusi alternatif untuk menyeberangi Sungai Brantas. Jembatan ini mampu memangkas waktu dam jarak bagi warga dari arah Desa Candiarjo, Kecamatan Ngoro ke Krembung, Sidoarjo maupun sebaliknya.
Lokasi ini menghubungkan Dusun Tawangsari Dusun Bangkal, Desa Candiarjo, Kecamatan Ngoro. Untuk melintas jembatan apung ini tidak gratis. Pengendara yang lewat harus membayar Rp 2 ribu kepada penjaganya.
Jembatan apung dari kayu ini dibangun oleh Priyono (45). Ia ingin memberikan solusi alternatif untuk menyeberangi Sungai Brantas yang menghubungkan Mojokerto dan Sidoarjo.
Menurut dia, terdapat fungsi penting sosial, yakni meningkatkan aksesibilitas sarana transportasi bagi para pekerja dari Sidoarjo yang bekerja di Ngoro. Sehingga meningkatkan mobilitas dan mempermudah akses mereka ke tempat kerja, tanpa harus menempuh jarak jauh hingga 15 kilometer melalui jalur utama.
Baca Juga: Perbaikan Jalan di Gedeg Mojokerto Bikin Jalan Macet, Polisi : Tak Ada Koordinasi
"Saya memiliki usaha ternak ayam di sini dan di seberang, jadi jembatan ini memudahkan saya untuk mengontrol ayam-ayam saya. Selain itu, jembatan ini juga sangat membantu masyarakat, khususnya para pekerja dari Sidoarjo yang bekerja di Ngoro," ujar Priyono dalam wawancaranya dengan Kabar Mojokerto (17/10/2024).
Jembatan apung ini mulai beroperasi pada tahun 2019 setelah dibuat dalam waktu satu bulan dengan bantuan 4 pekerja. Inovasi ramah lingkungan, terlihat dari penggunaan bahan-bahan sederhana seperti potongan bambu, kayu balok, dan drum sebagai daya apung, Priyono berhasil menciptakan jembatan sepanjang 200 meter dan lebar 2 meter yang cukup untuk 2 sepeda motor melintas bersamaan.
"Saya memilih menggunakan bambu karena dana yang terbatas. Sebelumnya, saya pernah menggunakan kayu balok, tetapi jembatan itu terseret arus sungai yang deras dan hilang," jelasnya.
Baca Juga: Mojokerto Diprediksi Diguyur Hujan 13 Oktober 2024, Waspada Angin Kencang!
Proses pembangunan jembatan ini menghabiskan biaya sekitar Rp 100 juta, dan Priyono mengenakan tarif hanya Rp 2 ribu per sepeda motor. Ia mengaku dalam sehari, jembatan ini mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 500 ribu.
Jembatan ini dibuka selama 24 jam dan dijaga secara bergantian oleh Priyono dan tiga anggota keluarganya.
"Walaupun malam sepi, kami tetap siaga jika ada yang lewat, agar bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," tuturnya.
Baca Juga: Inspiratif, Sosok Supeltas di Mojokerto Jadi Garda Terdepan Ketertiban